*

*

Ads

FB

Selasa, 30 Agustus 2016

Pedang Kayu Harum Jilid 164

"Hemmm... sesunguhnyakah?"

Jantung bekas tokoh Kun-lun-pai yang sudah setengah abad kurang sedikit usianya ini berdebar.

"Perlu apa aku bohong? Mengapa Lo-enghiong dahulu itu meninggalkan aku begitu saja? Padahal aku... aku mencari-carimu, maka aku menimpakan noda itu kepada Keng Hong."

"Tapi... tapi kenapa engkau mengancamku ketika murid Siauw-lim-pai itu membuka... Rahasia itu?"

"Aihhhhh... Lo-enghiong mengapa tidak tahu akan wanita? Tentu saja aku malu di depan begitu banyak orang dan... sudahlah, mari kita bicara ke taman sana sambil menikmati sinar bulan dan membicarakan masa depan kita. Ataukah... Lo-enghiong benar-benar berwatak habis manis sepah dibuang?"

Sejenak mereka berpandangan di bawah sinar bulan yang terang. Lian Ci Sengjin memandang dengan pandang mata penuh selidik namun sudah diamuk berahi tentu saja penyedilikannya percuma sehingga makin lama makin menipis sinar menyelidik, terganti seluruh oleh sinar mata mesra dan haus, maka akhirnya hanya sepasang mata yang indah, mulut yang manis menggairahkan saja yang tampak olehnya.

Adapun Tan Hun Bwee memandang bekas tokoh Kun-lun-pai itu dengan mata dikerlingkan, tajam memikat, mulut agak terbuka sehingga di balik sepasang bibir merah basah tampak deretan gigi putih mengkilap dan ujung lidah merah mengintai genit.

Biarpun hatinya sudah yakin kini bahwa gadis ini benar-benar "jatuh cinta" kepadanya karena peristiwa dahulu itu, mulut Lian Ci Sengjin masih bertanya,

"Nona, mana bisa aku percaya begitu saja? Aku sudah tua, engkau masih begini muda, segar dan cantik jelita.”

"Ah, kenapa engkau berkata demikian, Lo-enghiong? Aku adalah seorang wanita dari keluarga baik-baik. Setelah... setelah menjadi milikmu... bagaiana aku tidak mencintamu? Engkkau telah memiliki diriku, berarti telah memiliki jiwa ragaku...”

Hun Bwee menundukkan muka dan kelihatan malu-malu kucing sehingga sikap ini makin membetot jantung Lian Ci Sengjin.

"Tapi... tapi... hatiku belum yakin..."

"Aahhh...!"

Hun Bwee tiba-tiba melangkah maju. Lian Ci Sengjin terkejut dan siap menangkis. Akan tetapi kedua tangan Hun Bwee bergerak mesra sekali merangkul leher Lian Ci Sengjin, kedua lengan yang berkulit halus putih itu seperti dua ekor ular merayap melingkari leher, menarik leher itu sehingga Lian Ci Sengjin terpaksa menundukkan muka.






Muka mereka perlahan saling mendekati, dua pasang mata bertemu pandang, makin dekat, makin dekat sehingga laki-laki itu merasa napas halus Hun Bwee menyapu pipinya, mencium keharuman yang memabukkan dan masih saja Hun Bwee menariknya sehingga akhirnya mulut bertemu dalam sebuah ciuman yang hanya pernah dialami Lian Ci Sengjin dalam alam mimpi sebelumnya!

Hampir pingsan Lian Ci Sengjin dibuatnya! Sepasang matanya terbelalak dan sejenak dia tidak percaya akan pengalamannya, namun diam-diam menikmati permainan perasaan yang amat luar biasa. Betapa sepasang bibir yang lembut, hangat dan basah mengecup-ngecupnya! Betapa gigi yang putih-putih menggigit gemas! Betapa lidah kecil merah itu...!

Lian Ci Sengjin semenjak mudanya menjadi tosu. Seperti juga segala macam agama di dunia ini, Agama To pun merupakan agama yang amat baik, amat suci dan merupakan pelajaran bagi manusia untuk tidak menghambakan diri kepada nafsu dan kenikmatan duniawi. Kalau toh ada seseorang beragama yang melakukan penyelewengan, hal ini bukanlah sekali-kali salahnya agama itu sendiri, melainkan kesalahan si orang yang lemah batinnya sehingga menyeleweng daripada ajaran agamanya! Agamanya sendiri tetap suci, tetap bersih, namun manusia juga tetap manusia, mahluk yang selemah-lemahnya!

Semenjak mudanya, sudah banyak Lian Ci Sengjin digembleng dengan pelajaran-pelajaran Agama To, namun karena batinnya lemah, dia tidak mampu menanggulangi amukan nafsu-nafsu dirinya sendiri, terutama sekali nafsu birahi. Kini, pertahanannya yang umpama sebuah tanggul sudah bocor, mana kuat menahan nafsu yang membanjir karena dibangkitkan oleh Hun Bwee!

Segala pertahanannya hancur berantakan dan dia tenggelam dalam lautan nafsunya sendiri. Geraman seperti suara seekor beruang keluar dari kerongkongan dan dia membalas ciuman Hun Bwee dengan kasar penuh nafsu, memeluk tubuh wanita itu yang seolah-olah hendak di telannya bulat-bulat di saat itu juga!

Hun Bwee memegang lengan Lian Ci Sengjin yang menggerayangi pakaiannya sambil berbisik,

"Lian Ci koko... Jangan ... Jangan disini... ohhh...!"

Lian Ci Sengjin merasa seolah-olah terapung di langit ke tujuh mendengar sebutan "koko" ini, kedua lengannya memeluk dan sambil tertawa seperti orang mabuk, dia menggendong tubuh kekasihnya itu dan membawanya lari ke dalam taman di mana terdapat banyak pohon-pohon sehingga mereka akan terlindung dalam kegelapan bayangan pohon.

Semenjak manusia tercipta, nafsu berahi merupakan nafsu yang paling kuat dan jika nafsu ini telah mencengkeram diri manusia, maka si manusia lupa akan segala hal, kehilangan kewaspadaannya dan seluruhnya menjadi permaianan nafsu. Dapat dilihat dalam catatan sejarah betapa banyaknya kaisar-kaisar yang jatuh kerena diperhamba nafsu berahi, orang-orang gagah runtuh karena wanita, dan orang-orang yang hendak menyucikan diri tergoda oleh nafsu yang merupakan godaan terkuat. Nafsu berahi merupakan anugerah alamiah yang memperindah cinta kasih antara pria dan wanita, mendorong manusia untuk berkembang biak dan sudahlah menjadi hukum alam.

Namun apabila nafsu berahi tidak dikekang dan sudah mencengkeram diri manusia yang telah menciptakan hukum-hukum kesusilaan, maka segala rintangan, segala pantangan akan dilanggar di luar kesadarannya.

Dalam cengkeraman nafsu berahinya yang memuncak, Lian Ci Sengjin lupa bahwa wanita cantik yang kini dipeluknya dan diletakkan dengan mesra di atas rumput tebal dalam taman itu adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa, jauh lebih tinggi tingkatnya daripada dia sendiri, lupa bahwa dia pernah melakukan perbuatan keji dan terkutuk terhadap gadis ini.

Dalam keadaan telanjang bulat, bagaikan seekor binatang buas dia menubruk gadis yang dianggapnya kekasihnya itu, dan gerengannya dahsyat keluar dari kerongkongannya. Akan tetapi gerengan dahsyat ini berubah menjadi pekik kaget yang tertahan. Untuk terkejut pun dia tidak sempat lagi, karena tahu-tahu tubuhnya telah menjadi lemas, tertotok oleh dua ujung jari Hun Bwee yang amat lihai.

Tubuh Lian Ci Sengjin tergelimpang tak berdaya di atas rumput dan hanya matanya yang memandang betapa gadis dengan tubuh yang bagaikan terselaput emas di bawah sinar bulan purnama itu kini tidak tampak lagi oleh Lian Ci Sengjin karena seolah-olah gadis itu telah berubah menjadi setan yang amat menyeramkan baginya.

"Hi-hi-hik, he-he-heh-heh-heh!"

Hun Bwee merenggut pakaiannya dan tidak tergesa-gesa mengenakan pakaiannya menutupi tubuhnya yang telanjang di depan pandang mata Lian Ci Sengjin, seperti orang yang bersolek dan memikat. Setelah semua pakaian dikenakannya, ia menyanggul kembali rambutnya yang tadi terlepas dalam pergumulan mesranya dengan Lian Ci Sengjin!

Lian Ci Sengjin maklum bahwa dia telah terjebak, maklum akan bahaya maut mengancam dirinya. Cepat dia membuka mulut hendak menjerit untuk menarik perhatian kawan-kawannya.

Namun secepat kilat Hun Bwee menampar mulutnya, mencengkeram mulut itu dengan tangan kiri, kemudian tangan kanannya menyambar pakaian Lian Ci Sengjin. Celana bekas tokoh Kun-lun-pai itu kini disumbatkan ke dalam mulut sampai hampir memenuhi kerongkongan!

"Hi-hi-hik! Lian Ci Sengjin, ataukah Lian Ci Tojin? Enak benar ya engkau dahulu memperkosa aku? Hi-hi-hik, sekarang tiba saatnya engkau menerima hukumanku!"

Lian Ci Sengjin hanya membelalakkan matanya dengan penuh rasa ngeri dan serem, kemudian saking takutnya, air keluar dari atas dan bawah! Ia terkencing-kencing saking takutnya, dan air matanya mengalir turun, pandang matanya minta dikasihani seperti mata seekor lembu yang sudah ditelikung akan disembelih. Namun tentu saja keadaannya ini bukan menimbulkan rasa iba di hati Hun Bweee, bahkan menambah kemarahan gadis yang sudah kumat lagi gilanya itu!

"Singggg...!" Sinar hitam berkelebat ketika Hek-sin-kiam dicabut.

"Apamu dulu yang harus dihukum? Hi-hi-hik!" Hun Bwee mengelebatkan pedangnya depan hidung Lian Ci Sengjin. "Mula-mula tanganmu, ya? Tanganmu mencengkeramku, merenggut lepas pakaianku, membelaiku. Benar, tanganmu yang lebih dulu kurang ajar."

Sinar hitam berkelebat dan andaikata mulut Lian Ci Sengjin tidak disumbat, tentu dia melolong-lolong saking nyerinya. Satu demi satu jari tangannya dibabat buntung oleh sinar pedang hitam, tinggal setengah jari saja! Dapat dibayangkan betapa nyerinya, kiut-miut rasanya, pedih perih seperti jarum-jarum ditusukkan ke ulu hatinya.

Hebatnya, gadis itu kini menari-nari di depan Lian Ci Sengjin! Menari-nari sambil terkekeh-kekeh kegirangan seperti seorang anak kecil bermain-main.

"Bagus! Bagus! Hi-hik-hik, kini tanganmu tidak dapat mengerayangi tubuh wanita lagi! Sekarang apamu?"

Tiba-tiba Hun Bwee berhenti menari, menengadah dan mengerutkan kening, mengingat-ingat.dahulu ketika dia diperkosa, dia berada dalam keadaan pingsan, atau setengah pingsan sehingga dia hanya ingat secara remang-remang saja.

"Hemmm, engkau menciumku! Hidungmu menciumi seluruh tubuhku, kemudian mulutmu yang bau bangkai itu menggigit bibirku dan leherku!"

Kembali sinar hitam berkelebat dua kali seperti kilat menyambar dan... ujung hidung Lian Ci Sengjin terbabat putus disusul kedua bibirnya! Tentu saja wajah yang tersumbat mulutnya itu tampak buruk mengerikan sekali. Tampak dua buah lubang hidungnya yang kehilangan bukit hidung, dan giginya yang besar-besar kuning tampak pula setelah sepasang bibir penutupnya robek.

Lian Ci Sengjin memejamkan matanya, keningnya berkerut-kerut saking nyeri yang hampir tak tertahankan lagi. Darah membasahi tubuh dan lehernya, darah dari kedua tangan dan dari mukanya. Ketika dia membuka mata lagi, biji matanya berputar-putar liar penuh ketakutan.

"Hi-hi-hik! Engkau makin buruk saja, menjijikan! Orang macam engkau ini hendak menjadi kekasihku? Heh-he-heh! Sekarang bagian tubuhmu yang paling menjijikan harus dibuang!"

Pedang berkelebat dan Lian Ci Sengjin memejamkan mata, maklum bahwa maut akan datang merenggut nyawanya. Akan tetapi pedang tidak jadi dibacokkan dan Hun Bwee tertawa-tawa.

"Ah, nanti dulu, hi-hi-hik! Keenakan engkau kalau mati sekarang! Engkau pun telah menyiksaku dan sampai kini aku masih hidup, hu-hu-huuuuuk!" Gadis itu menangis.

Lian Ci Sengjin makin mengkirik ngeri.

Tiba-tiba Hun Bwee tertawa lagi.
"Ha-ha-hi-hi-hik! Benar! Matamu itu, ah, kalau saja matamu bukan yang kau pakai sekarang ini, belum tentu engkau akan melakukan perkosaan kepadaku. Matamu itu mata keranjang, dan lebih baik dibuang saja!" Dua kali pedang berkelebat dan sepasang biji mata Lian Ci Sengjin tercongkel keluar!

Mengerikan sekali keadaan bekas tokoh Kun-lun-pai itu. Kalau tadi dia masih dapat memperlihatkan rasa takut dan rasa nyeri yang luar biasa melalui pandang matanya, kini dia hanya mampu berkelojotan.

Hanya gerakan berkelojotan lemah ini saja yang menandakan bahwa dia belum mati, belum pingsan dan masih menderita penyiksaan yang hanya dapat dilakukan seorang yang sudah gila itu, gila karena berubah ingatan atau juga gila karena diamuk dendam.

Hun Bwee masih terkekeh-kekeh dan berkali-kali pedangnya berkelebat berubah menjadi sinar hitam. Mula-mula sepuluh buah jari kaki Lian Ci Sengjin dibabat buntung kemudian kedua telinganya dan semua anggauta tubuh yang "menonjol", dibuntungi semua satu demi satu.

“Heh-heh-heh, engkau tidak merintih. Ohhh, sumbat mulutmu!"

Hun Bwee yang agaknya merasa kurang puas karena melihat korbannya tidak dapat mengeluarkan suara itu, menyambar dan membuka sumbat yang dijejalkan ke mulut Lian Ci Sengjin. Begitu subat mulutnya dibuka terdengar rintihan dari mulut itu, rintihan yang tidak karuan bunyinya, akan tetapi masih dapat ditangkap kata-katanya,

“...ampun... ampun... ampun...!"

Pedang Kayu Harum







Tidak ada komentar: