*

*

Ads

FB

Selasa, 23 Agustus 2016

Pedang Kayu Harum Jilid 134

Tiga orang itu memang kakak beradik seperguruan. Yang tertua adalah si kakek jembel itu yang mempunyai watak ugal-ugalan dan suka berkelakar. Dahulu dia berjuluk Kai-ong Lo-mo (Iblis tua Raja Pengemis) maka sampai sekarang pun pakaiannya seperti seorang jembel gelandangan !

Orang kedua adalah Bun-ong Lo-mo (Iblis Tua Raja Sastrawan) yang berwatak angkuh dan menganggap diri sendiri yang paling pandai, baik mengenai ilmu sastra maupun ilmu silat! Pakaiannya pun sampai sekarang seperti pakaian seorang sastrawan!

Adapun orang ketiga dahulu berjuluk Thian-to Lo-mo seorang penganut to-kauw yang fanatik! Mereka ini setelah tua selalu berkumpul maka terkenal dengan julukan Thian-te Sam-lo-mo (Tiga Iblis Tua Bumi Langit)!

Karena penasaran, tiga orang kakek itu melanjutkan pengejaran mereka, akan tetapi mereka salah mengambil jalan, bukan Cui Im yang mereka temui, melainkan Keng Hong. Sejenak mereka terkejut, akan tetapi hati mereka girang sekali. Kini mereka malah bertemu dengan pemuda yang merupakan lawan Ang-kiam Bu-tek!

Keng Hong maklum bahwa tiga orang kakek ini amat lihai, dan dia biarpun tidak gentar, akan tetapi tidak ingin menanam bibit permusuhan baru dengan tokoh-tokoh datuk hitam ini, maka dia cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata,

"Ah, kiranya Sam-wi Locianpwe yang datang. Saya kagum sekali akan kepandaian Sam-wi Locianpwe dan perkenankan saya yang muda menyatakan hormat dan kagum!"

Ketiga orang kakek itu saling pandang. Si sastrawan hanya tersenyum, si tosu juga menyeringai akan tetapi si kakek jembel tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Engkau ini orang muda sungguh mempunyai banyak bakat! Bakatmu pertama, engkau tampan sopan santun dan pandai ilmu silat dan bakatmu kedua engkau pandai bermulut manis, dan bakatmu ke tiga engkau pandai menjadi pencuri. Ha-ha-ha!"

"Locianpwe, saya bukan pencuri!" Keng Hong membantah.

"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, dia bukan pencuri katanya! Ha-ha-ha! Orang muda, apakah engkau mengira kami tiga orang kakek sudah pikun dan lamur? Engkau mencuri benda-benda berharga dari dalam kamar mempelai wanita. Mencuri pusaka-pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong! Engkau masih tidak mengaku? Kami tadi mengenal pedang pusaka Hoa-san-pai dan sepasang golok emas Kong-thong-pai! Bahkan kami sudah lama tahu bahwa benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong itu disimpan oleh si mempelai wanita. Ha-ha-ha, dan sekarang kami akan mengambilnya darimu!"

Keng Hong mengangguk-angguk. Dimana-mana, tokoh kaum sesat ini sama saja, tidak lain hanyalah orang-orang yang diperhamba nafsu menginginkan benda lain orang, biarpun sudah setua mereka itu!

"Sam-wi Locianpwe, kalau sudah tahu mengapa tidak mendahului saya mencurinya dari kamar mempelai?"

"Bocah lancang, tutup mulutmu!" Tiba-tiba kakek berpakaian sastrawan Bun-ong Lo-mo membentak sambil melangkah maju, matanya mendelik dan kepalanya dikedikkan ke belakang, dadanya membusung. "Kau lihat baik-baik, siapakah kami? Lancang mulutmu menuduh kami pencuri! Apa kau kira kami ini hanyalah golongan maling-maling kecil seperti engkau yang secara pengecut mengambil barang orang lain di luar tahunya si pemilik? Puluhan tahun lamanya, kalau kami menghendaki sesuatu, kami ambil saja, pemiliknya yang melihat di depan hidungnya akan dapat berbuat apakah?"






Keng Hong terkejut. Benar-benar aneh kakek sastrawan ini. Marah disangka maling, akan tetapi dengan bangga mengaku bahwa mereka kalau menghendaki barang, mengambilnya begitu saja dari depan hidung pemiliknya alias merampok!

"Maaf, saya tidak menuduh Sam-wi Locianpwe, hanya karena penasaran Sam-wi menuduh saya pencuri. Memang saya mengambil benda-benda itu dari kamar mempelai wanita, akan tetapi saya hanya mengambil barang yang menjadi hak saya karena lima enam tahun lalu barang-barang itu dicuri oleh Bhe Cui Im dari tangan saya."

"Nah-nah-nah, tambah satu lagi bakatmu, bakat membohong! Barang itu adalah peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, bagaimana kau bisa mengatakan berhak atas pusaka itu?"

Keng Hong tidak perlu menyembunyikan keadaan dirinya lagi.
"Memang berhak, karena Sinjiu Kiam-ong adalah guruku."

"Siancai...! Engkau murid mendiang Sin-jiu Kiam-ong?" Kini kakek tosu itu bertanya sambil merangkap kedua tangan penuh keheranan.

"Benar, Locianpwe."

"Phuuuuahhh! Gurunya maling besar, muridnya pun maling kecil!"

Si sastrawan mengejek, mukanya membayangkan hati yang muak. Akan tetapi kakek jembel berjingkrak dan bertepuk-tepuk tangan.

"Ha-ha-ha-heh-heh, lucunya.. ha-ha-ha, lucunya! Sie Cun Hong hidup lagi! Ha-ha-ha! Persis sekali Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong hidup lagi dalam diri muridnya. Sama-sama tampan dengan sepasang mata yang genit dan tentu akan dapat menjatuhkan hati setiap orang wanita! Dengan lidah yang pandai bergoyang, pandai bicara dengan sikap lemah-lembut dan halus, pandai menanam tebu di bibir dan pandai membujuk rayu di tambah lagi pandai mencuri dan membohong! Ha-ha-ha, lucunya!"

"Bocah, siapa namamu?" Si sastrawan bertanya.

"Nama saya Cia Keng Hong, Locianpwe."

"Cia Keng Hong? Ha-ha-ha, pakai hurup Hong pula, sama dengan gurunya, Sie Cun Hong! Wah-wah, huruf Hong yang dipakai guru dan murid ini entah berarti apa? Kalau Hong lebah, pantas karena memang Sie Cun Hong seperti seekor lebah yang suka sekali mengejar bunga untuk dihisap madunya sampai habis kemudian ditinggalkan begitu saja! Kalau Hong, burung Hong, memang tepat karena guru dan murid ini sama-sama tampan dan angkuh seperti burung hong yang pandai berlagak. Kalau Hong angin, tentu angin busuk.."

"Alias kentut!" Kakek jembel menyambung kata-kata kakek sastrawan sambil tertawa. "Pandai bicara namun kosong dan hanya membohong menipu apa bedanya dengan kentut?"

Keng Hong merasa panas juga perutnya mendengar gurunya yang sudah mati diejek dan dipermainkan namanya, maka dia cepat berkata,

"Sam-wi Locianpwe! Kapankah guruku membohong dan menipu Sam-wi? Menuduh orang tanpa bukti berati fitnah dan fitnah hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa pengecut, curang dan berwatak hina!"

"Siancai! Engkau memang membohong atau menipu kalau mengatakan bahwa kau berhak atas benda-benda pusaka itu, Cia Keng Hong." Kini si kakek tosu mencela "Baik engkau maupun Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong tidak berhak atas benda-benda pusaka itu!"

"Saya membenarkan akan hal itu, Locianpwe. Memang tidak berhak memiliki, akan tetapi berhak dan berkewajiban untuk mendapatkannya kemudian mengembalikannya kepada yang berhak untuk mengembalikan semua pusaka ini kepada pemiliknya masing-masing untuk menebus kesalahan mendiang suhu yang dilakukan terhadap mereka."

"Wah-wah-wah, tidak benar! Kalau kau mengembalikan pusaka-pusaka itu, apakah jenazah gurumu tidak akan berbalik di dalam kuburnya? Apakah arwahnya tidak akan turun mencari dan mencekikmu? dia susah-susah merampas dan mencuri, engkau menjadi muridnya malah akan mengembalikan pusaka-pusaka itu. Benar-benar murid yang putahauw (tidak berbakti)!"

"Hemmm, apakah pendapat Locianpwe sebagai seorang satrawan tentang hauw (kebakitan)?"

Keng Hong bertanya dengan penasaran kepada kakek sastrawan yang memakinya sebagai puthauw lebih rendah dari pada kalau dimaki penjahat! Seorang penjahat sekalipun, kalau masih mempunyai kebaktian, akan mudah dimaafkan kejahatannya. Sebaliknya seorang putahwauw diangggap manusia serendah-rendahnya dan takkan dipercaya oleh siapapun juga!

"Ha-ha-ha, bocah yang baru lahir kemarin sore seperti engkau hendak berdebat tentang hauw dengan aku?" Bun-ong Lo-mo mengejek. "Mengabdi kepada negara, itulah hauw! Kalau sebaliknya daripada itu adalah puthauw!"

"Hanya sebegitu. Locianpwe? Betapa dangkal dan sederhananya. Dan memang tidak mengherankan, segala sesuatu di dunia ini tergantung manusianya, sehingga pelajaran dan filsafat tentang hidup dan segala lika-likunya sekalipun ditafsirkan menurut selera dan kebenaran masing-masing. Locianpwe, saya tidak peduli disebut putahauw atau tidak, akan tetapi bagi saya, yang penting adalah kebenaran. Biarpun perbuatan itu dilakukan oleh musuh guru atau orang tua saya, kalau perbuatan itu saya anggap benar, tidak akan saya tentang. Sebaliknya kalau ada perbuatan yang dilakukan guru saya itu saya anggap tidak benar, tentu tidak akan saya turut dan malah akan saya tentang.

Menentang perbuatan keliru dari orang tua atau guru, kuanggap bukanlah sikap yang puthauw, Locianpwe, karena yang ditentang bukanlah orangnya melainkan perbuatannya! Guru yang melakukan perbuatan tidak benar, sama halnya dengan tersesat jalan memasuki rawa berlumpur. Kalau muridnya membenarkan kesesatannya, sama saja dengan si murid mendorong pungung gurunya dari belakang sehingga si guru makin jauh tersesat ke dalam lumpur. Inikah yang Locianpwe anggap sebagai hauw?"

Merah wajah kakek sastrawan itu.
"Bocah she Cia, engkau manusia yang sombong dan besar kepala! Mari kita berdebat tentang."

"Ha-ha-ha-ha-ha, perlu apa melayani dia berdebat? Engkau akan kalah, Sute, seperti juga dulu ketika berdebat dengan Sie Cun Hong. Memang bocah ini agaknya telah dilatih dan mewarisi kepandaian Sin-jiu Kiam-ong dalam soal berdebat dan bersilat lidah!"

Si jembel memotong dan meloncat ke depan, menghadapi Keng Hong, memandang penuh selidik dengan wajah berseri kemudian berkata,

"Cia Keng Hong, kami tiga orang tua sudah bosan untuk merampok, bosan untuk bermusuhan akan tetapi makin gemar untuk mengadu ilmu! Dulu, puluhan tahun yang lalu sebelum engkau dapat menangkis, entah masih menjadi apa, kami pernah bertanding mengadu ilmu dengan Sin-jiu Kiam-ong, disertai taruhan.kami kalah dan kami memenuhi janji dalam taruhan itu. Kini kami bertemu muridnya. Kebetulan sekali. Kami mengulangi peristiwa puluhan tahun yang lalu dan kami menantangmu untuk menguji kepandaian sambil bertaruh!"

"Saya tidak berniat mengadu ilmu dengan Sam-wi, juga saya bukan seorang penjudi yang biasa bertaruhan."

"Itu tandanya kau pengecut, engkau takut dan engkau sama sekali tidak menghargai kesenangan orang yang menjadi gurumu! Kalau betul sedemikian rendahnya engkau memandang gurumu, biarpun kami pernah dikalahkan sehingga terpaksa menyembunyikan diri sampai puluhan tahun, biarlah hari ini kami mewakili gurumu untuk menghajarmu dan mengirimmu ke akhirat agar disana gurumu sendiri akan dapat memberi hukuman kepadamu!"

Suara si kakek jembel kini berubah, tidak ramah dan ugal-ugalan seperti tadi, melainkan serius sekali dan senyumnya lenyap dari wajahnya.

Keng Hong terkejut sekali dan merasa bahwa kalau dia menolak terus, tentu akan terjadi ribut dan dia pun mulai dapat menangkap maksud dari tiga orang kakek ini tentang sikap gurunya yang agaknya mereka kenal baik di waktu mudanya.

"Baiklah, kalau Sam-wi mendesak, saya menerima tantangan Sam-wi untuk mengadu ilmu. Tentang taruhan itu.. Apa yang Sam-wi maksudkan? Saya belum pernah bertaruhan, maka tidak mengerti.."

Berseri kembali wajah kakek jembel.
"Bagus... bagus...! Nah, begitu, baru murid baik namanya! Kita melakukan pibu (mengadu ilmu silat). Kalau engkau kalah, pusaka-pusaka yang kau curi dari mempelai wanita tadi harus kau serahkan kepada kami!"

"Hemm.. kiranya pada dasarnya Sam-wi memang menginginkan pusaka-pusaka ini!" Keng Hong berkata dengan suara mengejek dan mencela. "Kalau memang harus memakai jalan berputaran dan sungkan-sungkanan, mengapa tidak terang-terangan merampas saja dari saya kalau bisa?"

"Wah, monyet cilik ini sombongnya!" Si kakek sastrawan menuding. "Cia Keng hong simpanlah lidahmu yang tajam berbisa itu!"

Pedang Kayu Harum







Tidak ada komentar: