*

*

Ads

FB

Sabtu, 01 Oktober 2016

Petualang Asmara Jilid 047

Kun Liong cepat menjura,
“Maaf, saya tidak dapat menerima kehormatan itu. Saya adalah seorang petualang biasa yang tidak ada artinya, dan saya lelah sekali ingin mengaso. Maaf!”

Dia lalu melangkah keluar dari warung itu, memasuki losmen sederhana, memesan kamar dan merebahkan dirinya di atas dipan di dalam kamar yang sempit itu, melupakan lagi urusan tadi, akan tetapi diam-diam dia masih menaruh hati curiga terhadap ketiga orang yang hendak naik ke Siauw-lim-si. Kecurigaannya ini membuat Kun Liong gelisah dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia mendahului tiga orang itu naik ke puncak, kembali ke Siauw-lim-si. Sedikitnya dia harus memberitahukan Thian Kek Hwesio akan tiga orang aneh yang hendak mengunjungi kuil dan yang keadaannya mencurigakan agar Siauw-lim-pai dapat berjaga-jaga.

Biarpun kini Kun Liong melalui jalan yang jauh lebih sukar daripada ketika dia meninggalkan puncak, yaitu jalannya terus mendaki, namun karena dia tergesa-gesa dan mempergunakan ilmu berlari cepat, maka menjelang senja sampai juga dia ke puncak dan memasuki halaman kuil Siauw-lim-si yang amat luas.

Heran hati pemuda ini menyaksikan kesibukan anak murid Siauw-lim-pai, dan setelah dia berhadapan dengan ketua dan para tokoh Siauw-lim-pai di ruangan depan, dapat dibayangkan betapa kagetnya mendengar berita bahwa Thian Lee Hwesio telah tewas terbunuh orang dan baru saja kemarin jenazahnya tiba, dibawa oleh rombongan piauwsu yang kemarin dijumpai di tengah jalan. Kiranya yang berada di dalam kereta adalah sebuah peti yang terisi jenazah Thian Le Hwesio!

Di dalam ruangan itu terdapat dua buah peti mati dan Kun Liong segera berlutut memberi hormat di depan kedua peti mati itu setelah dia mengetahui bahwa dua peti mati itu berisi jenazah sukongnya, Tiang Pek Hosiang, dan jenazah Thian Le Hwesio!

“Bukan pinceng tidak mentaati pesan terakhir dari Suhu,” kata Thian Kek Hwesio kepada Kun Liong setelah mempersilakan pemuda itu duduk. “Akan tetapi sebelum kami dapat melaksanakan perintah Suhu dan memperabukan jenazahnya, telah datang jenazah Sute. Maka biarlah kita sekarang mengadakan upacara kepada dua jenazah, apalagi karena sudah sepatutnya kalau jenazah Suhu memperoleh kehormatan dan menerima penghormatan para tokoh kang-ouw yang tentu akan berdatangan mendengar berita kematian Suhu dan Sute. Pinceng harap Sicu akan suka menunggu di sini sampai kedua jenazah disempurnakan.”

Kun Liong mengangguk.
“Tentu saja, teecu akan menanti di sini karena teecu juga ingin sekali bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw. Sudah menjadi kewajiban teecu pula untuk menunggu jenazah Sukong sampai diperabukan. Akan tetapi yang sangat mengherankan hati teccu, bagaimanakah Thian Lee-losuhu yang katanya mencari pusaka yang hilang, tahu-tahu kembali dalam keadaan telah tewas dan siapa pula yang mengantar dengan kereta piauw-kiok itu?”

“Yap-sicu telah kami beri tugas untuk mencari kembali pusaka sesuai dengan pesan Suhu, sekarang dengan terjadinya kematian Sute, tugas Sicu menjadi lebih berat. Agar jelas, baiknya Sicu mendengar sendiri penuturan para piauwsu yang mengawal jenazah Sute,” kata Ketua Siauw-lim-pai yang segera memanggil enam orang piauwsu itu ke ruangan, sedangkan dia sendiri melanjutkan memimpin para anak murid melakukan upacara sembahyangan terhadap dua peti mati terisi jenazah.






Enam orang piauwsu itu tercengang juga ketika diperkenalkan kepada Kun Liong yang mereka kenal sebagai pemuda gundul yang kemarin berjumpa dengan mereka di tengah jalan. Ketika mendengar bahwa pemuda itu adalah sahabat baik Ketua Siauw-lim-pai, mereka segera memberi hormat, apalagi ketika Ketua Siauw-lim-pai minta agar mereka menceritakan semua kepada Kun Liong, pimpinan piauwsu yang bermuka hitam segera mulai dengan penuturannya.

Sam-to-piauw-kiok adalah sebuah perusahaan pengawalan dan pengiriman barang di kota Lam-san-bun yang sudah amat terkenal karena perusahaan ini dipimpin tiga orang kakak beradik yang tinggi ilmu silatnya, terutama sekali ilmu golok mereka yang sukar dicari tandingannya, sehingga terkenallah sebutan Sam-to-eng (Tiga Pendekar Golok). Karena itu, perkumpulan yang juga memakai nama Tiga Golok ini amat dipercaya orang untuk mengawal pelancong atau barang-barang berharga.

Pada suatu hari, seorang pemuda tampan datang berkereta dan membawa sebuah peti yang panjang besar, menyerahkan peti itu kepada Sam-to-piauw-kok dan minta agar peti itu dikirimkan secepatnya ke Siauw-lim-pai dengan biaya mahal dan dibayar kontan pula!

“Karena pada waktu peti itu datang tiga orang pimpinan kami sedang tidak ada di rumah, maka kami sebagai pembantu-pembantunya menerima barang itu dan kami tidak mengutus anak buah, melainkan kami mengawalnya sendiri mengingat akan baiknya hubungan antara tiga orang pemimpin kami dengan Siauw-lim-pai. Karena barang kiriman itu untuk Siauw-lim-si, maka harus kami jaga agar jangan sampai terjadi sesuatu di tengah jalan. Sama sekali kami tidak pernah menyangka bahwa peti itu berisi... berisi...”

“Jenazah Thian Le-losuhu?”

Kun Liong melanjutkan karena pemimpin para piauwsu yang bermuka bitam itu kelihatan gagap.

“Benar, Yap-sicu. Kalau kami tahu apa isinya, hemmm... tentu kami akan menahan dia!”

“Siapakah dia yang mengirim peti itu?”

“Seorang pemuda tampan, dan sekarang, melihat bahwa peti itu berisi jenazah wakil Ketua Siauw-lim-pai, timbul dugaan kami bahwa agaknya pemuda itu adalah penyamaran dari dia...”

Si Muka Hitam yang biasanya bersikap gagah itu kelihatan ragu-ragu dan jerih, tampak dari matanya yang otomatis melirik ke kanan kiri, seolah-olah dia merasa takut kalau-kalau suaranya terdengar orang lain!

“Siapakah dia yang kau maksudkan?”

“Giok... hong... cu...”

Kun Liong mengerutkan alisnya karena dia sama sekali tidak mengenal nama julukan Giok-hong-cu (Si Burung Hong Kemala) itu.

“Hemmm, dia itu orang apakah?”

Pemimpin rombongan piauwsu itu memandang dengan heran, kemudian dia dapat menduga bahwa pemuda gundul yang diakui sebagai sahabat oleh Ketua Siauw-lim-pai itu agaknya adalah seorang yang sama sekali belum mengenal keadaan dunia kang-ouw, maka dengan penuh gairah seorang yang suka bercerita dia berkata,

“Dia adalah seorang wanita muda yang namanya tersohor di seluruh dunia kang-ouw selama dua tahun ini. Ilmu kepandaiannya hebat dan mengerikan, sepak terjangnya ganas sekali dan melihat betapa banyaknya tokoh-tokoh golongan putih yang menjadi korban keganasan tangannya, agaknya dia adalah seorang tokoh baru golongan hitam, sungguhpun ada pula golongan hitam yang dibasminya. Dia seorang tokoh penuh rahasia dan melihat bahwa isi peti adalah jenazah wakil Ketua Siauw-lim-pai, kami terus saja ingat kepadanya.”

“Hemm, sungguh tidak baik kalau menuduh orang tanpa bukti, siapapun juga orang itu.”

Kun Liong membantah, hatinya merasa tidak rela ada orang menuduh seorang wanita muda yang melakukan pembunuhan keji terhadap Thian Le Hwesio.

“Kami tidak menuduh sembarangan!” Si Muka Hitam membantah. “Biarpun dia berpakaian seperti seorang pemuda, akan tetapi wajahnya demikian tampan dan suara serta gerak-geriknya demikian halus. Dia pasti seorang wanita muda yang menyamar.”

“Tapi bagaimana kau dapat memastikan dia itu tokoh wanita yang berjuluk Giok-hong-cu?”

“Karena Giok-hong-cu juga seorang dara muda yang cantik jelita, dan... di baju pemuda itu, di bagian dada kiri, terdapat sebuah hiasan burung hong terbuat dari batu kemala. Kabarnya, kami sendiri belum pemah bertemu dengan Giok-hong-cu, tokoh itu pun selalu menghias rambutnya dengan burung hong batu kemala, maka benda itu dijadikan julukannya karena tidak ada seorang pun tahu siapa namanya.”

Kun Liong mengerutkan alisnya makin dalam. Blarpun dia tidak yakin benar akan tuduhan ini, namun dia mencatat semua itu di dalam hatinya untuk bahan penyelidikannya kelak. Dia bertugas dan ini perintah mendiang sukongnya, untuk mendapatkan kembali dua buah benda pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri orang. Dan karena Thian Le Hwesio tewas dalam usahanya mencari pula pusaka itu, maka agaknya pembunuh hwesio tua itu tentulah orang yang mempunyai hubungan dengan pencurian pusaka itu.

Dahulu pun orang yang memimpin pencurian, yang telah melukainya, adalah seorang pemuda yang amat lihai sehingga tidak dapat tertangkap oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai. Akan tetapi, pemuda itu dahulu berkedok saputangan, dan tubuhnya memang kecil namun tegap dan gagah. Menurut penuturan Ketua Siauw-lim-pai, dua orang pencuri yang tertangkap kemudian membunuh diri, mungkin sekali adalah anggauta Kwi-eng-pai di Kwi-ouw, melihat dari duri yang mereka pakai membunuh diri.

“Apakah Giok-hong-cu yang kau sebut itu seorang anggauta Kwi-eng-pai?” tanyanya.

Kembali piauwsu itu kelihatan kaget dan jerih, menggeleng kepala dengan kuat.
“Ah, saya rasa tidak ada hubungannya dengan Kwi-eng-pai... akan tetapi entahlah, sepanjang pendengaran kami, Giok-hong-cu selalu bergerak sendiri. Kwi-eng-pai terlalu besar untuk hanya diwakili oleh satu orang saja yang tidak pernah menyebut nama perkumpulan itu.”

Kun Liong mengangguk-angguk.
“Jadi orang yang mungkin sekali menyamar Giok-hong-cu itu mendatangi Sam-to-piauwkiok di Lam-san-bun? Apakah memang dia tinggal di Lam-san-bun?”

“Yap-sicu, siapakah yang dapat mengetahui di mana tempat tinggalnya? Akan tetapi memang pada bulan-bulan terakhir ini sepak terjangnya berbekas di antara Lam-san-bun sampai ke kota raja.”

Kun Liong merasa lega mendengar keterangan ini. Biarpun dia belum yakin benar bahwa tokoh wanita terkenal itu yang membunuh wakil Ketua Siauw-lim-pai, namun sedikitnya dia dapat menyelidikinya dan mencarinya antara Lam-san-bun dan kota raja.

Para piauwsu Sam-to-piauwkiok itu tidak lama berada di Siauw-lim-si. Mereka segera berpamit untuk kembali ke Lam-san-bun dan melaporkan peristiwa hebat itu kepada tiga orang pimpinan mereka.

Setelah para piauwsu itu pergi, teringatlah Kun Liong akan tiga orang yang ditemuinya di warung, dan kecurigaannya bertambah. Dalam keadaan seperti pada waktu itu, setelah peristiwa hebat yang menimpa diri wakil Ketua Siauw-lim-pai, maka setiap orang yang datang ke Siauw-lim-si tentu mengandung niat yang meragukan. Siapa tahu kalau-kalau tiga orang yang dijumpainya itu, yang jelas bukanlah orang-orang biasa, adalah anak buah Kwi-eng-pai atau setidaknya mempunyai hubungan dengan pembunuh Thian Le Hwesio.

Pikiran ini mendorong Kun Liong untuk meninggalkan kuil dan menghadang di depan kuil, menanti munculnya tiga orang yang dicurigai itu. Dia tidak menanti lama, karena segera tampak olehnya tiga orang yang ditunggu-tunggu itu berlari mendaki puncak dengan gerakan cepat.

Diam-diam dia terkejut juga. Dia memang tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang berkepandaian, terutama sekali Si Pengantuk yang telah ia saksikan kelihaiannya ketika Si Pengantuk yang disebut Tio-taihiap itu menyambar cawan arak yang terlempar dan menyedot arak yang tumpah keluar kembali ke dalam cawan, membuktikan tenaga sin-kang yang amat kuat.

Akan tetapi melihat tiga orang itu mendaki puncak sambil berlari sedemikian cepatnya, dia benar-benar tercengang dan kecurigaannya bertambah. Siauw-lim-pai telah kedatangan tiga orang lawan berat, pikirnya. Lebih baik dia menghalangi mereka itu di luar agar tidak mengacaukan dalam kuil dimana sedang diadakan upacara sembahyang terhadap dua jenazah dalam peti-peti mati.

Hari masih pagi di waktu itu. Kun Liong berdiri di tengah lorong kecil yang menuju ke kuil, membelakangi pintu kuil yang terbuka sebelah. Keadaan di luar kuil sunyi karena semua hwesio sibuk di sebelah dalam, melayani ketua dan para pimpinan yang melakukan sembahyangan. Dari luar terdengar bunyi liam-keng (doa) mereka dan suara ketukan-ketukan mengiringi doa sembahyang seperti nyanyian puji-puji yang penuh khidmat.

Tiga orang itu menghentikan gerakan kaki mereka dan berdiri berhadapan dengan Kun Liong. Si Pengantuk berusaha melebarkan matanya yang sipit ketika melihat Kun Liong, sedangkan Si Muka Merah dan yang seorang lagi memandang dengan penuh keheranan dan juga mereka kelihatan marah ketika mengenal bahwa yang menghadang di tengah jalan itu bukanlah seorang hwesio yang menyambut kedatangan mereka, melainkan pemuda gundul yang pernah ribut dengan Si Muka Merah di dalam warung!

Kalau tadinya mereka itu sudah menghabiskan kecurigaan mereka setelah mendengar bahwa pemuda itu bukan seorang hwesio, kini mereka menjadi curiga lagi melihat pemuda itu menghadang mereka di depan pintu gerbang kuil Siauw-lim-si!

Orang she Tio yang tinggi kurus dan seperti mengantuk, sudah mendahului dua orang kawannya, maju dan menjura kepada Kun Liong sambil berkata,

“Kiranya sahabat muda yang menghadang kami di sini. Harap kau orang muda suka minggir dan membiarkan kami pergi memasuki kuil Siauw-lim-si, dan kalau ada urusan dengan kami, biarlah akan kita bicarakan kelak kalau urusan kami di Siauw-lim-si sudah selesal.”

Petualang Asmara







Tidak ada komentar: