*

*

Ads

FB

Kamis, 25 Agustus 2016

Pedang Kayu Harum Jilid 143

Gadis itu memandang dengan sinar mata heran, akan tetapi ia mengangguk dan berkata.

"Marilah. Di puncak sana itu amat indah pemandangannya dan sejuk hawanya. Aku paling suka duduk melamun sendirian di sana!"

Berlari-larilah mereka dan Keng Hong sengaja hendak menguji ginkang gadis itu. Ia berlari cepat sekali.

"Wah, larimu cepat bukan main, Suheng!"

Teriak gadis itu akan tetapi Keng Hong mendapat kenyataan bahwa gadis itu memiliki ginkang yang hebat juga. Iapun tidak mau mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mengimbangi kecepatan gadis itu sampai mereka tiba di puncak.

Keng Hong memandang sekeliling dan dia menjadi kagum. Memang indah bukan main pemandangan dari puncak itu. Di sebelah timur tampak menjulang puncak Pegunungan Phu-niu-san, sedangkan sebelah barat menjulang tinggi puncak Pegunungan Cin-ling-san. Di sebelah bawah tampak jurang-jurang yang curam dan anak sungai yang berlika-liku seperti ular naga. Hawanya pun nyaman sekali. Berdiam di tempat seperti inilah yang membuat manusia merasa kecil, dan merasa lebih dekat dengan alam yang maha besar, merasa bahwa dirinya tidak berarti, hanya menjadi sebagian kecil saja dari alam ini.

Mereka lalu duduk di atas rumput yang hijau tebal seperti permadani. Sejenak mereka berpandangan dan gadis itu bertanya,

"Suheng, pandang matamu aneh. Engkau hendak bicara apakah?"

"Sumoi, pertama-tama, siapakah namamu?"

Gadis itu membelalakkan matanya kemudian tertawa geli, menutupi mulut dengan lengan bajunya. Hemmm, bukan main manisnya kalau begini, pikir Keng Hong kagum. Ia dapat mengerti kegelian hati gadis itu. Seorang suheng yang tidak tahu nama sumoinya! Atau lebih lagi, seorang calon suami yang tidak tahu nama isterinya! Mana ada keduanya di dunia ini?

"Aihhh, kukira Suheng sudah tahu. Jadi belum tahukah?"

Keng Hong tersenyum. Sikap gadis itu kini lebih terbuka, lincah dan tidak malu-malu setelah mereka berdua berada di tempat sunyi yang amat indah itu. Sikap ini menular kepadanya dan dia pun menjadi gembira.

"Kalau aku sudah tahu, masa aku bertanya lagi, Sumoi?"

Gadis itu bangkit berdiri dan menjura sambil bersoja, sikapnya lucu dan manis.
"Kalau begitu, perkenalkanlah, nama saya Gui Yan Cu!"

"Saya Cia Keng Hong!"






Keng Hong juga sudah bangkit berdiri dan membalas penghormatan sumoinya seolah-olah mereka itu merupakan dua orang yang baru bertemu dan baru berkenalan. Keduanya saling pandang lalu tertawa bergelak. Kini Yan Cu bahkan tertawa gembira tanpa malu-malu menutupi mulut seperti tadi sehingga Keng Hong terpesona melihat deretan gigi yang putih seperti mutiara dan sekilas pandang melihat rongga mulut dan ujung lidah yang merah.

"Yan Cu sumoi, marilah kita duduk dan bicara. Aku tidak main-main lagi, aku ingin bicara denganmu mengenai diri kita dan kuharap kau suka bicara sejujurnya seperti aku, karena ini demi kebahagiaan masa depan kita sendiri."

Ternyata Yan Cu adalah seorang gadis yang selain lincah dan jujur, juga dapat diajak berunding, karena gadis itu telah dapat menghapus kegembiraannya dan duduk sambil memandang Keng Hong penuh perhatian. Melihat sikap gadis ini, sepasang matanya yang bening, sepasang bibirnya yang merah indah, rambutnya yang melambai tertiup angin gunung, diam-diam Keng Hong membayangkan betapa akan bahagia hidupnya menjadi jodoh gadis seperti ini kalau saja di sana tidak ada Biauw Eng!

"Sumoi, engkau tentu sudah tahu bukan bahwa Subo telah menetapkan agar kita menjadi pasangan, menjadi calon suami isteri?"

Gadis itu mengangguk, kembali sepasang pipinya menjadi merah, akan tetapi karena maklum bahwa suhengnya bicara dengan sungguh-sungguh, ia berani menentang pandang mata suhengnya, bahkan kini pandang matanya sendiri penuh selidik.

"Bagaimana tanggapanmu mengenai urusan itu, Sumoi? Bagaimana perasaanmu ketika Subo menyatakan urusan penjodohan itu kepadamu?"

"Hemmm, apa maksudmu, Suheng? Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana!"

"Jawab saja, apakah engkau girang mendengar itu? Ataukah engkau terpaksa menerima akan tetapi dalam hatimu sebetulnya tidak suka?"

Gadis itu kelihatan canggung, akan tetapi ia memaksa mulutnya menjawab.
"Aku girang dan suka mendengar itu Suheng."

"Sumoi, katakanlah terus terang, apakah engkau... suka kepadaku? Mengapa engkau merasa girang dan suka mendengar bahwa engkau hendak dijodohkan denganku?"

Wajah yang manis itu menjadi merah sekali. Diam-diam Keng Hong merasa kasihan dan dia menyumpahi dirinya sendiri yang dia tahu amat kejam mengajukan pertanyaan seperti ini kepada seorang gadis, malah tunangannya sendiri! Akan tetapi dia harus melakukan hal ini, agar urusan yang ruwet itu dapat beres.

"Aku... aku suka kepadamu, Suheng. Mengapa tidak? Engkau seorang pemuda yang gagah perkasa, yang... eh, amat tampan dan yang baik budi, bahkan engkau murid suami Subo yang terkenal. Apakah engkau tidak suka kepadaku, Suheng?"

Kini sepasang mata yang bening dan membayangkan hati yang bersih itu seolah-olah hendak menembus jantung Keng Hong. Mampus kau sekarang, demikian Keng Hong memaki diri sendiri. Senjata makan tuan! Dia dibalas oleh gadis itu dengan ucapan sederhana dan dengan pertanyaan langsung yang menancap di ulu hatinya.

"Aku... aku... Ah, nanti dulu, Sumoi. Sekarang engkau dulu menjawab pertanyaanku, nanti aku yang mendapat giliran menjawab semua pertanyaanmu."

Yan Cu memandang aneh, lalu menghela napas.
"Engkau aneh, Suheng. Akan tetapi baiklah, kau mau bertanya apa lagi?"

"Ketika engkau merawatku selama tiga hari tiga malam, apakah hal itu kau lakukan karena... engkau memang kasihan kepadaku, apakah karena suka, ataukah karena kau merasa hal itu menjadi kewajibanmu sebagai.. eh, calon isteri?"

Keng Hong menanti jawaban dari gadis itu dengan hati berdebar tanpa berani memandang wajah Yan Cu. Sampai lama gadis itu tidak menjawab dan selama itu Keng Hong tidak berani memandang wajahnya. Kemudian terdengar suaranya, halus namun penuh keheranan,

"Aku tidak mengerti mengapa kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh seperti ini, Suheng. Aku merawatmu karena merasa hal itu sudah semestinya, sudah kewajibanku, bukan hanya karena aku menjadi calon isterimu, akan tetapi karena aku kasihan kepadamu juga suka kepadamu, apalagi engkau adalah suhengku."

Keng Hong menggaruk-garuk kepalanya. Dasar engkau sendiri yang tolol, makinya kepada diri sendiri, ingin menjenguk hati gadis yang murni! Mengapa tidak terus terang saja?

“Mengapa tidak terus terang saja, Suheng?"

"Hahhh..?"

Keng Hong kaget karena pertanyaan yang diajukan Yan Cu begitu tepat dengan suara hatinya sendiri? Siapakah yang bertanya tadi? Benarkah suara Yan Cu, atakah suranya sendiri? Ia menjadi bingung sendiri dan memandang kepada Yan Cu dengan mata kosong.

Gadis itu tersenyum geli.
"Suheng, jangan-jangan sebagian dari racun Ban-tok-sin-ciang ada yang naik memasuki kepalamu.."

Keng Hong memegangi kepalanya.
"Wah... Kau menghina..." Akan tetapi dia tertawa dan gadis itu pun tertawa geli. Suasana yang tegang membingungkan tadi membuyar. "Kau terlalu, Sumoi. Apakah kau anggap aku sudah menjadi gila...?"

"Habis, pertanyaan-pertanyaanmu aneh-aneh saja, sih. Kalau ada sesuatu di hatimu, katakanlah terus terang, Suheng. Bukankah kau tadi mengajak aku untuk bicara dari hati ke hati? Aku tahu bahwa engkau masih terkejut karena keputusan Subo yang tiba-tiba menjodohkan kita. Apakah kau hendak bicara tentang ini? Ataukah tidak setuju dan terpaksa menerima karena takut kepada Subo?"

Nah, rasakan sekarang! Keng Hong menundukkan mukanya seperti seorang pesakitan mendengarkan tuduhan-tuduhan hakim. Akhirnya dia memberanikan hatinya, mengangkat muka memandang wajah yang jelita itu dan berkata,

"Terus terang saja, Sumoi. Memang hal itulah yang membuat hatiku bingung bukan main. Karena berhutang budi kepada Subo yang telah menyelamatkan nyawaku, pula karena mengingat bahwa Subo adalah isteri Suhu yang tentu saja berhak mewakili Suhu, bagaimana aku berani membantahnya?"

"Jadi engkau tidak setuju dan engkau tidak suka kepadaku, Suheng ?"

"Wah-wah-wah, nanti dulu, Sumoi. Disaksikan oleh langit dan bumi yang dapat kita lihat sekarang ini, sama sekali tidak demikian. Aku suka sekali kepadamu, Sumoi, dan untuk kedua kalinya aku bersumpah bahwa belum pernah aku bertemu dengan seorang gadis secantik, sepandai dan semulia engkau. Aku suka kepadamu, akan tetapi bukan hanya karena suka orang lalu bisa menjadi suami isteri. Eh, apakah engkau cin... cinta kepadaku, Sumoi?"

Keng Hong ingin menampar mulutnya sendiri untuk keluarnya pertanyaan ini, akan tetapi karena sudah terlanjur, maka dia hanya dapat memandang muka gadis itu yang kini mengerutkan kening dan bibirnya diruncingkan, agaknya berpikir keras!

Keng Hong menanti jawaban yang memutuskan ini. Kalau sumoinya ini terang-terangan menyatakan cinta kepadanya, berati dia kalah dan harus bertekuk lutut tanpa syarat lagi! Karena kalau sumoinya ini mencintanya, tentu dia tidak akan tega untuk menghancurkan hati dan hidupnya, dan dia akan menyerahkan diri, pasrah bongkokan membiarkan hidungnya diikat dan dituntun seperti kerbau ke meja sembahyang pernikahan! Diam-diam dia berdoa agar gadis itu menjawab sebaliknya!

Sampai lama Yan Cu tidak menjawab, melainkan mengerutkan alis dan matanya memandang jauh ke puncak Pegunungan Cin-ling-san yang tertutup awan. Tiba-tiba ia menoleh, sinar matanya seperti dua cahaya menembus dahi Keng Hong dan bertanya,

"Cia-suheng! Apakah engkau mencinta gadis lain??"

Keng Hong tersentak kaget dan matanya terbelalak. Pertanyaan itu begitu tiba-tiba tak tersangka-sangka seperti datangnya ujung pedang yang menusuk ulu hati. Ia tergagap dan menjawab seperti orang dikejar harimau atau seperti maling konangan,

"Eh... wah... ini... eh itu...wah bagaimana ya? Ya begitulah, Sumoi. Begitulah..."

"Begitu-begitu bagaimana, Suheng? Mengapa tidak terus terang saja? apakah ini yang namanya bicara dari hati ke hati?"

Pedang Kayu Harum







Tidak ada komentar: