*

*

Ads

FB

Senin, 11 Juli 2016

Pedang Kayu Harum Jilid 041

Keng Hong tertawa, menarik lengan gadis itu yang dengan lemas menurut saja sehingga rebah dalam pelukan pemuda yang amat dikaguminya itu. Keng Hong sebetulnya adalah seorang pemuda yang baru berusia delapan belas tahun masih hijau dan belum ada pengalaman sama sekali mengenai pergaulan dengan wanita.

Akan tetapi, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, seorang "jagoan" besar, bukan hanya mengenai ilmu silat akan juga mengenai ilmu menjatuhkan hati wanita, sedikit banyak Keng Hong ketularan penyakit itu. Sering kali suhunya bercerita tentang petualangan-petualangan cintanya di masa muda, bahkan memberinya nasihat-nasihat tentang wanita, mengajarkan "tehnik-tehnik" merayu wanita, sehingga biarpun pada dasarnya Keng Hong tidak berbakat menjadi seorang laki-laki mata keranjang dan hidung belang, namun watak suhunya menular dan dia menjadi seorang pemuda yang lebih berani menghadapi wanita daripada pemuda-pemuda lain sebaya dengannya.

Apalagi setelah dia berjumpa dengan Ang-kiam Tok-sian-li Bhi Cui Im dan remajanya gugur oleh wanita cabul yang cantik itu, pengalaman ini menambah keberaniannya menghadapi Ciang Bi. Hanya ada satu hal yang menguntungkan bagi batin Keng Hong, yaitu bahwa dia amat taat kepada pesan-pesan suhunya sehingga betapapun terpupuk dan bangkit selera dan nafsunya untuk berdekatan dan bermain cinta dengan wanita, namun seperti suhunya, memaksa dan memperkosa wanita merupakan pantangan mutlak baginya.

Kalau ada wanita suka kepadanya, dia akan melayaninya. Akan tetapi betapapun cantik seorang wanita dan betapapun tertarik hatinya, kalau wanita itu tidak suka kepadanya, dia tidak akan menyentuh seujung rambutnya.Ketaatan ini menguntungkan Keng Hong sendiri dan para wanita, karena andaikata tidak, tentu dia akan tersesat menjadi seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) atau tukang pemerkosa wanita yang berbahaya sekali!

Mendengar jawaban gadis itu, Keng Hong tertawa, merangkul lehernya dan menundukkan muka. Mereka berciuman dan biarpun keduanya belum berpengalaman dalam bermain cinta, namun karena didorong hati yang mencinta, mereka berciuman mesra.

"Hong-ko...."

Ciang Bi merintih, tubuhnya menggetar, semua bulu di tubuhnya meremang ketika kedua lengannya merayap seperti ular melingkari leher pemuda perkasa yang menjatuhkan hatinya itu.

"Bi-moi...... engkau jelita sekali......"

Keng Hong juga berbisik di dekat telinga gadis itu dan kembali mereka berdekapan dan berciuman mesra.

Cinta adalah perasaan yang dimiliki oleh setiap mahluk di dunia, setiap mahluk yang hidup wajar sesuai dengan kodrat dan kekuasaan alam. Cinta bukan merupakan sesuatu yang kotor dan bukan merupakan hal yang tak patut dibicarakan. Sebaliknya daripada itu! Cinta antara pria dan wanita adalah hal yang amat wajar, merupakan anugrah dari Tuhan, merupakan dorongan alamiah yang tak dapat dibantah, bahkan tak dapat dihindarkan dan tak dapat dibuang karena cinta ini pula yang membuat manusia masih berlangsung ada di dunia ini, berkembang biak dan mencipta generasi demi generasi. Karenanya, cinta adalah bersih dan murni, tidak kotor dan bukannya tidak patut dibicarakan, bahkan seharusnya dibicarakan agar tidak disalah gunakan.






Biarpun cinta antara lawan kelamin merupakan kodrat dan dimiliki oleh setiap mahluk, dari yang terkecil sampai yang terbesar, namun karena manusia adalah mahluk yang berakhlak dan berakal budi, maka tidaklah dapat disamakan dengan mahluk lain yang dalam hal cinta kasih semata-mata menurut dorongan kodrat belaka.

Cinta antara pria dan wanita diciptakan oleh kodrat dan pembawaan yang sudah ada pada setiap mahluk yaitu daya tarik yang ada di antara lawan kelamin. Tanpa diberi tahu, tanpa membaca buku, jika masanya sudah tiba sesuai dengan usianya, seorang pemuda akan tertarik melihat seorang pemudi, dan sebaliknya. Rasa tertarik ini menimbulkan suka yang disebut cinta, kasih atau asmara. Tidak berhenti sampai di situ saja. Cinta antara pria dan wanita yang normal diikuti oleh bangkitnya nafsu berahi yang wajar, diikuti pula oleh hubungan kelamin yang juga sudah wajar. Segala macam mahluk di dunia ini, kecuali manusia, akan melakukan hal ini, yaitu saling tertarik dan saling mendekati, menurut nafsu berahi melakukan hubungan kelamin. Adakah seorang pun dapat mengatakan bahwa perkembangan dan perbuatan itu kotor dan tidak patut ? Sama sekali tidak!

Akan tetapi, sekali lagi ditekankan bahwa manusia bukanlah sembarangan mahluk! Tanpa berunding lebih dulu, manusia seluruh dunia ini telah membangun dan mendirikan mercu suar di antara segala mahluk yang disebut peradaban yang melahirkan prikemanusiaan!

Prikemanusiaan inilah yang melahirkan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia sendiri, disesuaikan dengan rasa, dengan kebiasaan, dan dengan kepercayaan golongan masing-masing. Lahir pula hukum-hukum susila yang melarang pria dan wanita melakukan hubungan kelamin di luar pengesahan hukum. Terciptalah istilah-istilah dan sebutan bagi perbuatan-perbuatan yang melanggar garis yang ditentukan ini, misalnya perjinaan, perkosaan dan lain-lain.

Cintanya itu sendiri, nafsu berahinya itu sendiri, dan hubungan kelamin itu sendiri tetap bersih dan murni, bukanlah hal yang tidak patut. Hanya perbuatan melanggar garis hukum itulah yang tidak patut, karena sudah tahu ada garis tetap dilanggar sehingga tentu saja menimbulkan pertentangan-pertentangan.

Keng Hong adalah seorang pemuda yang kurang pengalaman. Dia bertumbuh menjadi dewasa dalam asuhan seorang aneh seperti Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi gurunya. Dan semenjak dia masih muda, Sin-jiu Kiam-ong sudah meninggalkan dan tidak lagi mengindahkan gari-garis hukum buatan manusia ini. Dia melakukan apa saja yang dia anggap benar, biarpun itu melanggar hukum manusia dan sebaliknya dia tidak akan melakukan hal yang dianggapnya tidak benar, biarpun hal itu dibenarkan hukum.

Maka timbulah perbuatan-perbuatannya yang menggemparkan karena tidak cocok dengan hukum manusia lain, permainan cinta dengan banyak wanita yang tertarik oleh ketampanan dan kegagahannya, pencurian-pencurian dan perampasan-perampasan benda-benda pusaka, pertolongan-pertolongan tanpa melihat bulu, dan pertentangan-pertentangan lain yang mengakibatkan dia dimusuhi orang-orang gagah sedunia!

Watak aneh Sin-jiu Kiam-ong yang pada hakekatnya seorang pendekar yang sakti dan berjiwa besar itu hanyalah akibat. Akibat dari kepatahan hati. Di waktu masih muda, baru berusia dua puluh dua tahun dan baru saja menikah dua tahun dengan seorang wanita yang cantik jelita, masih belum mempunyai keturunan, pada suatu malam pendekar muda yang sakti ini, yang baru pulang dari perantauan selama sebulan, menemukan istrinya yang tercinta itu sedang melakukan hubungan kelamin dengan seorang pria lain, sahabat baiknya sendiri!

Tadinya Sin-jiu Kian-ong Sie Cun Hong marah sekali dan hampir saja dia meloncat masuk dan serta-merta membunuh istrinya dan sahabatnya itu, yang dalam keadaan seperti itu tidak tahu bahwa perbuatan mereka ditonton oleh Sie Cun Hong yang mengintai di luar jendela kamar.

Akan tetapi tiba-tiba pkiran yang aneh menyelinap dalam benaknya. Kekecewaan dan pukulan batin yang amat hebat agaknya telah membuat jalan pikirannya Sie Cun Hong menjadi tidak normal, tidak lumrah seperti manusia biasa, bahkan menjadi berlawanan dengan pendapat umum!

Pada saat itu, timbul pendapat dihatinya bahwa tidak perlu dia marah karena kalau istrinya sampai mau melakukan hubungan kelamin dengan pria lain, tentu ini didasari hati suka kepada si pria itu. Mengapa dia akan melarang orang yang mencinta? Kedua orang itu, biarpun istrinya dan sahabatnya namun tetap orang, saling mencinta dan menumpahkan rasa cinta mereka dalam hubungan kelamin. Mengapa dia harus marah dan membunuh mereka?

Sie Cun Hong tertawa, suara ketawanya meninggi dan melengking sehingga mengejutkan istrinya dan sahabatnya yang sudah mengakhiri perbuatan mereka. Isterinya terkejut setengah mati, juga sahabatnya, sehingga kedua orang ini dengan tubuh menggigil menjatuhkan diri berlutut di atas lantai dan memejamkan mata, siap menanti datangnya maut karena mereka kenal suara ketawanya di luar jendela itu turun tangan, mereka berdua takkan dapat tertolong lagi. Akan tetapi Sie Cun Hong tidak pernah lagi memasuki kamarnya itu, bahkan tidak pernah lagi berjumpa dengan bekas isterinya dan bekas sahabatnya.

Peristiwa itulah yang menjadi sebab munculnya seorang pendekar aneh yang menggegerkan dunia persilatan. Sie Cun Hong melakukan hal-hal yang bagi manusia biasa dianggap jahat dan keji, tidak lumrah dan dia dikutuk oleh banyak tokoh kang-ouw. Bermain cinta dengan wanita manapun juga, bahkan wanita-wanita yang telah menjadi isteri orang lain, kalau dasarnya suka sama suka, dia tidak segan melakukannya. Banyak sekali wanita yang tergila-gila kepadanya karena memang di waktu mudanya Sie Cun Hong merupakan seorang pria yang gagah perkasa dan tampan.

Kini Sie Cun Hong sudah tidak ada lagi akan tetapi dia mewariskan seluruh miliknya kepada murid tunggalnya, yaitu Cia Keng Hong. Seluruh sinkangnya dia berikan, seluruh pusakanya dia tinggalkan untuk muridnya, bahkan sebagian wataknya dia wariskan sehingga kini, dalam usia delapan belas tahun, Keng Hong telah melayani nafsu berahi Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im, dan sekarang, untuk kedua kalinya dia bermain cinta dengan seorang gadis Hoa-san-pai yang mengaguminya dan jatuh hati kepadanya.

Kalau gurunya tidak peduli akan hukum susila karena pernah patah hati menyaksikan isterinya berjina dengan sahabatnya, adalah Keng Hong melakukan hal itu semata-mata karena dia menganggap hal itu wajar dan benar, sesuai dengan nasehat-nasehat mendiang gurunya! Dia tidak memperkosa, dia tidak memaksa, dia dan Ciang Bi sama-sama mau, cocok sudah dengan pesan suhunya, maka tentu saja hal itu sudah benar dan baik!

Sim Ciang Bi, gadis remaja yang dikuasai nafsu berahinya sendiri, sudah seperti mabuk dan buta bahwa dia telah melakukan pelanggaran garis hukum. Lupa bahwa garis hukum susila itu diadakan oleh manusia semata-mata untuk melindungi dan membela nasib hidup dan kebahagiaan wanita. Lupa bahwa hubungan kelamin di luar pernikahan, si wanitalah yang akan menanggung akibat-akibat pahit getir, bahkan yang akan dapat menyeretnya kelembah kesengsaraan, mungkin ke lembah kehinaan.

Manusia tidak dapat membebaskan diri daripada hukum-hukum manusia yang sudah tersusun dan bertumpuk ribuan tahun lamanya. Apalagi, dalam hukuman kelamin, alam sendiri sudah menjatuhkan kodrat bahwa si wanitalah yang akan menderita akibatnya, yaitu kehamilan.

Setiap orang gadis yang bijaksana, yang sadar betapa satu kali saja salah langkah melanggar garis hukum kesusilaan ini dapat mengakibatkan malapetaka sepanjang hidup, akan selau pandai mengekang nafsu, pandai menjaga diri tidak terseret oleh gelombang yang memabukan, tentu akan menjaga kesusilaan dan kehormatanya yang dia junjung lebih tinggi dan berharga daripada nyawa! Kehilangan nyawa hanya berarti mati. Akan tetapi kehilangan kehormatan sebagai gadis ternoda, berarti akan hidup terhina oleh manusia-manusia lain yang sudah melekatkan batinnya pada hukum.

Dua orang yang tenggelam dalam lautan kasih asmara itu tidak sadar bahwa Sim Lai Sek menjulurkan kepalanya keluar dari gubuk. Pemuda remaja ini pada tengah malam terbangun dari tidurnya dan menggerakan tubuh, menjenguk keluar gubuk.

Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika dia menyaksikan keadaan cicinya dan penolong mereka itu di atas rumput, di dekat api ungun. Sejenak dia terbelalak, mukanya berubah merah, akan tetapi dia lalu menarik diri lagi rebah di dalam gubuk, napasnya agak terengah dan diam-diam dia menangis, berdoa semoga cicinya yang telah tersesat itu akan menjadi isteri yang sah dari Cia Keng Hong.

Mengingat ini, lenyaplah kemarahan dan kedukaannya, terganti rasa girang karena dia memang suka sekali dan kagum kepada penolongnya yang demikian gagah perkasa. Kalau dia dapat mempunyai Cihu (kakak ipar) seperti itu, alangkah senangnya dan dia akan memperdalam ilmu silatnya, belajar dari cihunya. Kelegaan hati inilah yang membuat Lai Sek tertidur kembali, lupa akan perutnya yang lapar.

Lewat tengah malam, Keng Hong tertidur nyenyak, sedangkan Ciang Bi pulas pula di atas dadanya. Mereka tidur berdekapan, pipi Ciang Bi terletak di atas dada Keng Hong, rambut gadis itu terurai lepas menutupi dada, leher dan sebagian muka Keng Hong. Mereka berdua tidur dengan nikmat, karena badan lelah hati bahagia, sehingga tidak sadar dan tidak tahu bahwa tak jauh dari tempat itu tampak sepasang mata yang bening dan jeli memandang ke arah mereka dengan sinar berkilat-kilat.

Mulut yang manis dengan bibir merah itu bergerak- gerak, tampak giginya berderet rapi putih seperti mutiara. Kemudian, tangan yang halus itu merogoh kantong dalam baju, mengambil sesuatu, tangan digerakan dan sinar putih meluncur ke arah Ciang Bi yang masih tidur pulas berbantal dada Keng Hong

Jerit melengking yang keluar dari mulut Ciang Bi adalah jerit kematian, dan bayangan putih itu berkelebat cepat sekali, lenyap ditelan kegelapan malam. Keng Hong tersentak bangun, otomatis lengannya memeluk leher Ciang Bi. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangannya menjadi basah oleh darah yang mengucur keluar dari pelipis itu!

Di bawah sinar api unggun yang masih menyala sedikit, dia memandang dan kerongkongannya serasa dicekek ketika dia melihat sebuah benda bulat berduri menancap di pelipis gadis itu. Senjata rahasia Biauw Eng yang tadi telah menolongnya merobohkan pengeroyokan para penjahat. Kini sebuah di antara senjata rahasia itu menancap di pelipis kiri Ciang Bi, merenggut nyawa dari tubuh yang masih hangat itu.

"Biauw Eng......!"

Seruan Keng Hong ini seperti jerit tangis dan setelah dia merebahkan tubuh yang masih hangat dan tak bernyawa lagi itu di atas tanah bertilam rumput yang juga hangat dan rebah semua karena tindihan tubuh mereka berdua semalam, dia meloncat dan mencari-cari dengan pandang matanya.






Tidak ada komentar: